Berita56,Cilacap – Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, mengapresiasi transformasi kawasan Pemasyarakatan Nusakambangan yang kini berkembang menjadi sentra ketahanan pangan sekaligus pusat pembinaan kemandirian Warga Binaan.
Apresiasi tersebut disampaikan saat melakukan kunjungan kerja ke Nusakambangan pada Sabtu (20/6), dengan didampingi oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas), Agus Andrianto.
"Atas nama Komisi IV, saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pak Menteri dan jajaran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Mudah-mudahan usaha ini bisa ditiru dan diduplikasi di tempat-tempat lain," ujar Titiek.
Menurut Titiek, Nusakambangan yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pemasyarakatan berisiko tinggi (high risk) telah berhasil bertransformasi menjadi kawasan produktif yang mampu menghasilkan berbagai komoditas pangan dan produk bermanfaat bagi masyarakat.
Ia bahkan menyandingkan kesan awal Nusakambangan dengan penjara legendaris di Amerika Serikat.
"Nusakambangan yang kita dengar selalu seram, bayangannya Alcatraz. Ternyata setelah ke sini, sangat ramah dan bisa menghasilkan begitu banyak produk bermanfaat untuk kita semuanya," pujinya.
Dalam kunjungan tersebut, Titiek meninjau sejumlah program unggulan yang sedang berjalan, di antaranya:
Sektor Industri & Kreatif: Workshop Fly Ash Bottom Ash (FABA) dan Balai Latihan Kerja (BLK) Konveksi.
Sektor Pertanian & Peternakan: Pertanian terpadu, peternakan, serta produksi pupuk organik.
Sektor Perikanan: Budidaya perikanan, tambak udang vaname, hingga budidaya sidat.
Sektor Lingkungan: Pengolahan sampah mandiri.
Sementara itu, Menimipas Agus Andrianto menyampaikan bahwa berbagai masukan dan arahan dari Komisi IV DPR RI akan menjadi bahan evaluasi penting untuk memperkuat program yang telah berjalan.
"Tadi kami juga mohon beberapa evaluasi dan arahan, serta akan kami tindak lanjuti, termasuk upaya-upaya perbaikan dari apa yang sudah kita kerjakan. Kami sudah laporkan kepada beliau bahwa seluruh Lapas dan Rutan mengoptimalkan pemanfaatan lahan idle (lahan tidur) yang ada untuk membangun program ketahanan pangan, terutama untuk memenuhi kebutuhan dari dalam," terang Agus.
Saat ini, Nusakambangan telah mengoptimalkan sekitar 135 hektare lahan produktif dengan melibatkan ratusan Warga Binaan dalam berbagai sektor usaha. Transformasi ini menjadi wujud nyata komitmen Pemasyarakatan dalam mendukung ketahanan pangan nasional, sekaligus menyiapkan Warga Binaan agar siap kembali dan berkontribusi positif di tengah masyarakat.(*/TB)


