Berita56,Medan – Krisis kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) melanda seluruh wilayah Sumatera Utara (Sumut) dalam sepekan terakhir. Antrean panjang kendaraan dan penutupan SPBU akibat kehabisan stok kian mengganggu perekonomian warga, termasuk di Kota Medan.
Terkait hal ini, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dinilai "cuci tangan" karena terus mengklaim distribusi normal di tengah kepanikan warga.
Ketua Umum DPN Formapera, Teuku Yudhistira, mengecam keras situasi ini dan menyebutnya sebagai kejahatan kemanusiaan. Ia mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM untuk segera mencopot pimpinan Pertamina dan Pertamina Patra Niaga.
"Jangan hanya klaim lancar, fakta di lapangan amburadul. Polda Sumut juga harus mengusut tuntas kasus ini, tindak tegas jika ada mafia minyak," ujar Yudhistira, Selasa (14/7/2026).
Dampak kelangkaan ini juga memukul para pengusaha SPBU yang merugi akibat tidak ada stok, namun tetap menanggung biaya operasional dan menjadi sasaran kemarahan konsumen.
Melalui surat terbuka pada Senin (13/7/2026), mereka mendesak DPP dan DPC Hiswana Migas Medan untuk berhenti bungkam dan segera menuntut langkah darurat kepada Pertamina.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, berdalih kelangkaan dipicu oleh lonjakan konsumsi selama libur sekolah.
Dalam keterangan tertulisnya (10/7/2026), Fahrougi mengklaim Pertamina telah menambah 15 unit mobil tangki dan 30 Awak Mobil Tangki (AMT) bantuan dari Fuel Terminal Medan untuk mempercepat normalisasi pasokan. Masyarakat pun diimbau tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan.("/tb)


