Berita56,Mamasa— Keputusan mengejutkan datang dari kalangan aktivis muda Mamasa. Ryan Christoper Gatara, yang akrab dikenal dengan nama Ryan Mewa’, resmi menyatakan pengunduran dirinya dari organisasi Jaringan Aktivis Mamasa (JAM). Pernyataan itu disampaikan secara terbuka melalui pernyataan tertulis, Sabtu (01/11/2025).
Dalam keterangan tersebut, Ryan menjelaskan bahwa keputusannya tidak diambil secara mendadak, melainkan hasil dari refleksi dan evaluasi mendalam terhadap kondisi pelayanan publik di Kabupaten Mamasa. Ia mengaku ingin mengambil langkah baru dalam kontribusinya bagi daerah tanpa terikat pada struktur organisasi manapun.
“𝐾𝑒𝑝𝑢𝑡𝑢𝑠𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑛𝑝𝑎 𝑎𝑙𝑎𝑠𝑎𝑛, 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢𝑖 𝑝𝑟𝑜𝑠𝑒𝑠 𝑟𝑒𝑓𝑙𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑑𝑎𝑛 𝑒𝑣𝑎𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑘𝑜𝑛𝑑𝑖𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑏𝑙𝑖𝑘 𝑑𝑖 𝐾𝑎𝑏𝑢𝑝𝑎𝑡𝑒𝑛 𝑀𝑎𝑚𝑎𝑠𝑎,” 𝑢𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝 𝑅𝑦𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎.
Ryan, yang dikenal aktif menyuarakan isu transparansi birokrasi dan partisipasi publik, menegaskan bahwa dirinya tetap berkomitmen terhadap nilai-nilai perubahan.
Ia menyampaikan dukungan terbuka kepada Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, untuk segera melaksanakan pelantikan pejabat eselon II hasil uji kompetensi (job fit) yang telah lama dinantikan publik.
Menurut Ryan, keterlambatan pelantikan pejabat hasil job fit dapat menimbulkan dampak pada efektivitas pelayanan publik. Ia menilai pembenahan struktur birokrasi merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“𝑃𝑢𝑏𝑙𝑖𝑘 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑟𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑛𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖 𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑔𝑒𝑟𝑎 𝑑𝑖𝑙𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛. 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑏𝑙𝑖𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑏𝑒𝑟𝑑𝑎𝑚𝑝𝑎𝑘 𝑛𝑒𝑔𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑗𝑎ℎ𝑡𝑒𝑟𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑦𝑎𝑟𝑎𝑘𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑗𝑢𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ,” 𝑡𝑒𝑔𝑎𝑠𝑛𝑦𝑎.
Lebih jauh, Ryan memuji komitmen Bupati Welem dalam melakukan pembenahan birokrasi yang berbasis pada kinerja. Ia menilai, pendekatan meritokrasi melalui job fit merupakan bagian penting dari reformasi pelayanan publik, sebagaimana didorong oleh pemerintah pusat melalui BKN-RI dan KemenPANRB.
“𝑆𝑎𝑦𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑎𝑚𝑏𝑢𝑡 𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑢𝑝𝑎𝑦𝑎 𝐵𝑢𝑝𝑎𝑡𝑖 𝑀𝑎𝑚𝑎𝑠𝑎 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑒𝑛𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑘𝑖𝑛𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑝𝑒𝑚𝑒𝑟𝑖𝑛𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛. 𝑆𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑑𝑖𝑛𝑎𝑛𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑛𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑗𝑎𝑏𝑎𝑡 𝑒𝑠𝑒𝑙𝑜𝑛 𝐼𝐼 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑗𝑜𝑏 𝑓𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛,” 𝑢𝑗𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎.
Meski kini memutuskan untuk mundur dari JAM, Ryan menegaskan bahwa langkah tersebut bukan bentuk kekecewaan atau penolakan terhadap gerakan aktivisme, melainkan pilihan sadar untuk menjaga independensi pandangan dan peranannya sebagai warga yang konstruktif. Ia berharap publik dapat memahami sikapnya sebagai bagian dari tanggung jawab moral seorang aktivis.
Sikap Ryan Mewa’ ini menambah dinamika baru dalam ruang publik Mamasa, khususnya di tengah momentum reformasi birokrasi yang sedang dijalankan oleh pemerintah daerah.
Dukungan terbuka dari kalangan aktivis seperti dirinya dinilai dapat menjadi energi positif bagi pemerintah dalam mempercepat pelaksanaan kebijakan berbasis kompetensi dan integritas.
Menutup pernyataannya, Ryan menyampaikan apresiasi kepada seluruh rekan aktivis yang telah berjuang bersama dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Ia berharap JAM tetap menjadi wadah aspiratif yang memperjuangkan kepentingan rakyat, sembari menyerukan agar semua pihak terus mengawal arah pembangunan Mamasa ke depan.
“𝑆𝑎𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑟ℎ𝑎𝑟𝑎𝑝 𝑘𝑒𝑝𝑢𝑡𝑢𝑠𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖 𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑑𝑖𝑝𝑎ℎ𝑎𝑚𝑖 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑝𝑢𝑏𝑙𝑖𝑘, 𝑑𝑎𝑛 𝐵𝑢𝑝𝑎𝑡𝑖 𝑀𝑎𝑚𝑎𝑠𝑎 𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑔𝑒𝑟𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎ℎ-𝑙𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎ℎ 𝑠𝑡𝑟𝑎𝑡𝑒𝑔𝑖𝑠 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑗𝑢𝑎𝑛 𝐾𝑎𝑏𝑢𝑝𝑎𝑡𝑒𝑛 𝑀𝑎𝑚𝑎𝑠𝑎,” 𝑡𝑢𝑡𝑢𝑝 𝑅𝑦𝑎𝑛.
Langkah mundur Ryan Mewa’ sekaligus menjadi cermin refleksi di kalangan aktivis daerah — bahwa idealisme dan dukungan terhadap pemerintahan tidak selalu harus berada dalam posisi oposisi, melainkan dapat diwujudkan melalui kolaborasi konstruktif demi kepentingan masyarakat luas.(*/ Leo)


