Iklan

Kerusakan Lingkungan di Makale Selatan Kian Kritis, Warga Dihantui Bom Waktu Bencana

Editor-Berita56
Rabu, 03 Juni 2026, 15:50 WIB Last Updated 2026-06-03T07:50:05Z


Berita56,Tana Toraja —Kerusakan lingkungan di Kecamatan Makale Selatan, Kabupaten Tana Toraja, kini berada dalam kondisi yang kian memprihatinkan. Aktivitas penambangan pasir masif di wilayah tersebut dituding menjadi biang kerok utama hancurnya ekosistem lokal, sekaligus memicu ancaman bencana ekologis yang menghantui warga setiap hari.

Penyedotan material pasir secara terus-menerus baik menggunakan pompa maupun metode konvensionall telah mengubah drastis bentang alam Makale Selatan. Tebing-tebing alam yang dulunya berfungsi sebagai penahan air kini berubah menjadi dinding tanah yang kritis, gundul, dan rawan runtuh.

Pengikisan kaki tebing membuat struktur tanah di atasnya menjadi labil. Saat intensitas hujan tinggi, permukiman warga dan lahan perkebunan di bawah area tambang otomatis masuk ke dalam zona bahaya longsor.

Aliran sungai mengalami pendangkalan hebat akibat sedimentasi lumpur tambang. Air kini berubah menjadi cokelat pekat, berlumpur, dan tidak layak konsumsi. Dampak ini merembet ke sektor pertanian akibat rusaknya saluran irigasi tradisional, sehingga pasokan air ke sawah warga terputus.

Mobilitas truk bertonase berat yang melebihi kapasitas jalan setiap hari menyebabkan aspal jalan poros hancur dan berlubang. Selain merusak akses, aktivitas ini menimbulkan polusi debu pekat saat musim kemarau.

"Kami di sini setiap hari disuguhi debu, jalanan rusak, dan rasa takut. Kalau hujan turun, kami tidak bisa tidur nyenyak karena takut banjir bandang dan longsor. Pengusaha tambang yang dapat uang, kami warga kecil yang menanggung risikonya," keluh salah seorang warga setempat dengan nada geram.

Kondisi yang kian sekarat ini akhirnya memicu gelombang desakan keras dari aliansi masyarakat dan pegiat lingkungan di Tana Toraja. Mereka meminta Pemerintah Daerah (Pemda) dan aparat penegak hukum untuk segera mengambil tindakan tegas.

Warga mendesak dilakukannya penertiban total dan penutupan bagi seluruh aktivitas tambang pasir yang tidak mengantongi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta izin resmi. Bagi mereka, pembiaran terhadap perusakan lingkungan ini sama saja dengan membiarkan bom waktu bencana alam meledak di Makale Selatan. (*/TB)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Kerusakan Lingkungan di Makale Selatan Kian Kritis, Warga Dihantui Bom Waktu Bencana

Terkini

Iklan